BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kain batik yang diidentikkan sebagai kain Nusantara kini berkembang menjadi industri modern. Konsekuensi dari masuknya batik ke dalam industri modern, batik dituntut mengikuti perkembangan zaman, sesuai perkembangan mode dan dengan tuntutan pasar. Perkembangan batik yang mengikuti perkembangan zaman dari tahun ke tahun akhirnya menunjukkan dinamika beragam. Batik sebagai produk seni adiluhung, awalnya kelahirannya banyak diwarnai simbol-simbol keraton. Penggunaannya pun seperti masih terbatas didominasi oleh kalangan keraton. Tapi akibat pergeseran waktu, batik pun kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan secara luas. Dewasa ini, penggunaan batik sudah mulai memasyarakat. Batik juga sudah mulai digunakan tidak hanya dalam upacara adat, namun juga dalam keseharian. Mulai bermunculan baju-baju yang bermotif batik. Hingga saat ini banyak sekali tempat tempat khusus yang menjual batik ini. Mulai dari batik yang benar-benar sakral dan murni, hingga batik modifikasi yang diaplikasikan dalam pakaian sehari-hari. Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan kebutuhan saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang lebih ringan dan lebih mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan, melainkan juga cara kain tersebut digunakan, terutama ketika kain tersebut ditujukan untuk busana. Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Mendunianya batik saat ini diharapkan mampu bersaing di pasaran dan melestarikan hasil karya orang Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Batik ?
2. Bagaimana teknik membatik?
3. Apa saja macam-macam batik?
4. Apa alat dan bahan yang digunakan dalam membatik?
5. Bagaimana langkah-langkah membatik?
6. Bagaimana proses pewarnaan membatik?
7. Apa manfaat dari workshop membatik?
C. Tujuan
1. Mahasiswa memahami pengertian batik
2. Mahasiswa mengetahui teknik dan macam-macam batik
3. Mahasiswa mengetahui peralatan dan bahan yang diperlukan dalam membatik
4. Mahasiswa mampu mempraktekkan membatik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Batik
Pengertian batik secara umum adalah pembentukan gambar pada kain dengan menggunakan teknik tutup celup dengan menggunakan lilin atau malam sebagai perintang dan zat pewarna pada kain. (Warsito, 2008:12)
Seorang sarjana Belanda, J.L.A. Brandes (1889) telah menyatakan bahwa ada 10 butir kekayaan budaya yang telah dimiliki bangsa Indonesia (Jawa) sebelum tersentuh oleh budaya India yang salah satu diantaranya adalah membatik. Ditinjau dari etimologi atau asal usul katanya “ batik “ berasal dari kata “ mbat” dan kata “tik”seperti dalam buku bau sastra. Kata mbat dari kata ngembat mengandung arti memainkan ,menarik,mengerjakan bersama -sama atau mencoba pukulan.dan tik dari kata nitik atau menulis.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia batik adalah “kain yang bergambar (bercorak, beragi) yang pembuatannya dengan cara tertentu (mula – mula ditulis atau ditera dengan lilin lalu diwarnakan dengan tarum dan soga).
Dalam bahasa Jawa berarti titik, yang diturunkan dari kata ‘ambatik’ yang berarti “kain dengan titik-titik kecil”. Akhiran ‘tik’ berarti titik-titik kecil. Batik juga berasal dari kata dalam Bahasa Jawa ‘tritik’ yang mendeskripsikan sebuah proses pewarnaan kain dengan teknik celupan-rintang lilin.
Frase bahasa Jawa lain yang berkaitan dengan batik adalah sesatu untuk menggambarkan pengalaman mistis dalam membuat batik yaitu “mbatik manah” yang berarti “menggambar dengan hati.” Seni batik merupakan salah satu kesenian khas Indonesia yang telah sejak berabad-abad lamanya hidup dan berkembang, sehingga merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah budaya bangsa Indonesia. Seni batik juga merupakan suatu keahlian yang turun-temurun, yang sejak mulai tumbuh merupakan sumber penghidupan yang memberikan lapangan kerja yang cukup luas bagi masyarakat Indonesia. Seni batik merupakan penyalur kreasi yang mempunyai arti tersendiri, yang kadang-kadang dihubungkan dengan tradisi, kepercayaan dan sumber-sumber kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.
Seni batik mempunyai begitu banyak aspek menarik untuk diungkapkan sehingga berbicara tentang batik rasanya tak pernah ada akhirnya. Di samping itu masih banyaknya daerah batik yang dapat dikaji kekhasannya. Belum lagi kalau kita memperhatikan dan mengkaji baik cara pemakaian batik yang tak terhitung variasinya di berbagai daerah, maupun aturan yang berlaku untuk kaum ningrat dan rakyat biasa.
B. Sejarah Batik
Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak. Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati. Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya. Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya. Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusum a yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Keraton Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok “batik larangan”. Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya. Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.
Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa. Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota. Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok keraton. Kendati begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo menghimbau masyarakat umum yang bukan kerabat keraton untuk tidak mengenakan motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam tembok keraton, untuk menjaga wibawa Sultan. Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran misalnya, sebaiknya jabang bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur panjang seperti sang nenek. Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya, Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.
“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya. Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar senada.
C. Teknik Membatik
1. Teknik Canting Tulis, adalah teknik membatik dengan menggunakan alat yang disebut canting. Canting terbuat dari tembaga ringan yang berbentuk seperti teko kecil dengan corong di ujngnya. Canting berfungsi untuk menorehkan cairan malam / lilin pada pola. Saat kain dimasukkan ke dalam larutan pewarna, bagian yang tertutup malam tidak terkena warna. Membatik dengan canting tulis sepeti ini disebut teknik membatik traisional
2. Teknik Celup Ikat, merupakan pembuatan motif pada kain dengan cara mengikat sebagian kain, kemudian kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Bagian kaian yang diikat atau ditutup lilin tidak akan terkena bahan pewarna. Setelah diangkat dari larutan pewarna kemudian ikatan dibuka maka bagian yang diikat tidak berwarna. Bagian tersebut tetap berwarna putih. Motif inilah yang disebut motif dalam bentuk negatif atau klise.
3. Teknik cap merupakan cara pembuatan motif batik menggunakan canting cap. Canting cap merupakan kepingan logam atau pelat berisi gambar yanng agak menonjol. Permukaan ccanting cacp yang menonjol dicelupkan ke dalam cairan malam (lilin batik). Selanjutnya canting cap dicapkan pada kain /mori. Canting cap akan meninggalkan motif. Motif inilah yanng disebutklise. Canting cap membuat proses pemalaman lebih cepat. Oleh karena itu, teknik printing dapat menghasilkan kain batik yang lebih benyak dalam waktu yang lebih singkat.
4. Teknik Colet, yaitu motif batik yang dihasilkan dengan teknik colet tidak berupa klise. Teknik colet disebut juga teknik lukis, yaitu cara mewarnai pola batik dengan mengoleskan cat atau pewarna pada kain jenis tertentu pada pola batik dengan alat khusus atau dengan kuas
5. Batik printing adalah tekstil yang bermotif batik bikinan pabrikan batik printing biasanya bercorak warna terang dan menyolok terkesan tidak mudah luntur, warnanya kontras, kombinasi warna yang dipakai sangat cocok. Teknik yang digunakan, teknik cetak layaknya industri tekstil. Tidak jarang menggunakan mesin cetak yang komputerise.
D. Macam-macam motif batik
Motif batik
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan (Sewan Susanto, 1980:212). Motif batik terdiri dari dua bagian, yaitu ornamen motif batik dan isen motif batik
Penggolongan motif batik
1. Motif Geometris
Motif Geometris adalah motif-motif batik yang ornament-ornamennya merupakan susunan geometris. Ciri ragam hias geometris ini adalah motif tersebut mudah dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut satu “raport”. Golongan geometris ini pada dasarnya dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:
a. Raportnya berbentuk seperti ilmu ukur biasa, seperti bentuk-bentuk segiempat, segiempat panjang atau lingkaran. Motif batik yang memiliki raport segi empat adalah golongan Banji, Ceplok, Ganggang, Kawung.
b. Raportnya tersusun dalam garis miring, sehingga raportnya berbentuk semacam belah ketupat. Contoh motif ini adalah golongan parang dan udan liris.
2. Motif Non Geometris
Motif non geometris adalah motif-motif batik yang tidak geometris. Termasuk dalam motif ini adalah motis Semen, Buketan, Terang Bulan. Motif-motif golongan non geometris tersusun dari ornament-ornamen tumbuhan, Meru, Pohon Hayat, Candi, Binatang, Burung, Garuda, Ular (Naga) dalam susunan tidak teratur menurut bidang geometris meskipun dalam bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motif tersebut.
Ornamen motif batik Ornamen motif batik terdiri atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang.
a. Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang mempunyai arti, sehingga susunan ornamen-ornamen itu dalam suatu motif membuat jiwa atau arti daripada motif itu sendiri.
Contoh:
Sawat atau lar, melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi
Meru melambangkan gunung atau tanah
Lidah api atau Modang, melambangkan nyala api
Ular/naga, melambangkan air
Burung, melambangkan angin
b. Ornamen tambahan tidak mempunyai arti dalam pembentukan motif dan berfungsi sebagai pengisi bidang. Bentuk lebih kecil dan sederhana. Dalam satu motif dapat diisi satu atau beberapa ornament pengisi.
Isen motif batik
Motif batik terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi. Isen motif batik adalah berupa titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk mengisi ornamen-ornamen dari motif atau pengisi bidang diantara ornamen-ornamen tersebut. Isen motif ada bermacam-macam dan sekarang masih berkembang, seperti: cecek, cecek pitu, sisik melik, cecek sawut, cecek sawu daun, sisik gringsing, galaran, rambutan, sirapan, cacah gori, dan sebagainya.
Makna batik
Untuk lebih memahami makna batik, ada dua daerah asal batik yang perlu dipelajari yaitu daerah Yogyakarta dan daerah Solo.
1. Batik daerah Solo
Daerah Solo merupakan kerajaan degnan segala tradisi dan adat istiadatnya. Ragam hias batik diciptakan dengan pesan dan harapan semoga membawa kebaikan bagi pemakai. Semua dilukiskan secara simbolis misalnya:
a. Ragam hias larangan dan dianggap sakaral, hanya dikenakan rja dan keluarganya yaitu parang rusak barong, sawat dan kawung
b. Ragam, hias slobog, berarti agak besar longgar dipakai untuk melayaat harapannya semoga arwah yang meninggal tidak mendapat halangan
c. Sidomukti, diapakai pengantin . sido berarti terus menerus dan mukti berarti hidup berkecukupan.
d. Truntum, dipakai orangtua pengantin. Truntum berarti menuntun makananya orang tua menuntun mempelai memasuki hidup baru
e. Satria manah, dipakai wali penganti pria ketika meninang degnan harapan semoga lamaran sang pria dapat diterim a baik oleh pihak wanita.
f. Semen rante, dipakai wali pengantin wanita ketia menerima lamaran. Rantai melambangkan ikatan yang kokoh. Harapnnya jika lamaran telah diterima, pihak wanita menginginkabn hibungan erat dan kokoh yang tidak dapat dilepas lagi
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kain batik yang diidentikkan sebagai kain Nusantara kini berkembang menjadi industri modern. Konsekuensi dari masuknya batik ke dalam industri modern, batik dituntut mengikuti perkembangan zaman, sesuai perkembangan mode dan dengan tuntutan pasar. Perkembangan batik yang mengikuti perkembangan zaman dari tahun ke tahun akhirnya menunjukkan dinamika beragam. Batik sebagai produk seni adiluhung, awalnya kelahirannya banyak diwarnai simbol-simbol keraton. Penggunaannya pun seperti masih terbatas didominasi oleh kalangan keraton. Tapi akibat pergeseran waktu, batik pun kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan secara luas. Dewasa ini, penggunaan batik sudah mulai memasyarakat. Batik juga sudah mulai digunakan tidak hanya dalam upacara adat, namun juga dalam keseharian. Mulai bermunculan baju-baju yang bermotif batik. Hingga saat ini banyak sekali tempat tempat khusus yang menjual batik ini. Mulai dari batik yang benar-benar sakral dan murni, hingga batik modifikasi yang diaplikasikan dalam pakaian sehari-hari. Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan kebutuhan saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang lebih ringan dan lebih mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan, melainkan juga cara kain tersebut digunakan, terutama ketika kain tersebut ditujukan untuk busana. Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Mendunianya batik saat ini diharapkan mampu bersaing di pasaran dan melestarikan hasil karya orang Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Batik ?
2. Bagaimana teknik membatik?
3. Apa saja macam-macam batik?
4. Apa alat dan bahan yang digunakan dalam membatik?
5. Bagaimana langkah-langkah membatik?
6. Bagaimana proses pewarnaan membatik?
7. Apa manfaat dari workshop membatik?
C. Tujuan
1. Mahasiswa memahami pengertian batik
2. Mahasiswa mengetahui teknik dan macam-macam batik
3. Mahasiswa mengetahui peralatan dan bahan yang diperlukan dalam membatik
4. Mahasiswa mampu mempraktekkan membatik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Batik
Pengertian batik secara umum adalah pembentukan gambar pada kain dengan menggunakan teknik tutup celup dengan menggunakan lilin atau malam sebagai perintang dan zat pewarna pada kain. (Warsito, 2008:12)
Seorang sarjana Belanda, J.L.A. Brandes (1889) telah menyatakan bahwa ada 10 butir kekayaan budaya yang telah dimiliki bangsa Indonesia (Jawa) sebelum tersentuh oleh budaya India yang salah satu diantaranya adalah membatik. Ditinjau dari etimologi atau asal usul katanya “ batik “ berasal dari kata “ mbat” dan kata “tik”seperti dalam buku bau sastra. Kata mbat dari kata ngembat mengandung arti memainkan ,menarik,mengerjakan bersama -sama atau mencoba pukulan.dan tik dari kata nitik atau menulis.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia batik adalah “kain yang bergambar (bercorak, beragi) yang pembuatannya dengan cara tertentu (mula – mula ditulis atau ditera dengan lilin lalu diwarnakan dengan tarum dan soga).
Dalam bahasa Jawa berarti titik, yang diturunkan dari kata ‘ambatik’ yang berarti “kain dengan titik-titik kecil”. Akhiran ‘tik’ berarti titik-titik kecil. Batik juga berasal dari kata dalam Bahasa Jawa ‘tritik’ yang mendeskripsikan sebuah proses pewarnaan kain dengan teknik celupan-rintang lilin.
Frase bahasa Jawa lain yang berkaitan dengan batik adalah sesatu untuk menggambarkan pengalaman mistis dalam membuat batik yaitu “mbatik manah” yang berarti “menggambar dengan hati.” Seni batik merupakan salah satu kesenian khas Indonesia yang telah sejak berabad-abad lamanya hidup dan berkembang, sehingga merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah budaya bangsa Indonesia. Seni batik juga merupakan suatu keahlian yang turun-temurun, yang sejak mulai tumbuh merupakan sumber penghidupan yang memberikan lapangan kerja yang cukup luas bagi masyarakat Indonesia. Seni batik merupakan penyalur kreasi yang mempunyai arti tersendiri, yang kadang-kadang dihubungkan dengan tradisi, kepercayaan dan sumber-sumber kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.
Seni batik mempunyai begitu banyak aspek menarik untuk diungkapkan sehingga berbicara tentang batik rasanya tak pernah ada akhirnya. Di samping itu masih banyaknya daerah batik yang dapat dikaji kekhasannya. Belum lagi kalau kita memperhatikan dan mengkaji baik cara pemakaian batik yang tak terhitung variasinya di berbagai daerah, maupun aturan yang berlaku untuk kaum ningrat dan rakyat biasa.
B. Sejarah Batik
Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak. Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati. Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya. Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya. Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusum a yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Keraton Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok “batik larangan”. Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya. Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.
Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa. Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota. Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok keraton. Kendati begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo menghimbau masyarakat umum yang bukan kerabat keraton untuk tidak mengenakan motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam tembok keraton, untuk menjaga wibawa Sultan. Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran misalnya, sebaiknya jabang bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur panjang seperti sang nenek. Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya, Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.
“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya. Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar senada.
C. Teknik Membatik
1. Teknik Canting Tulis, adalah teknik membatik dengan menggunakan alat yang disebut canting. Canting terbuat dari tembaga ringan yang berbentuk seperti teko kecil dengan corong di ujngnya. Canting berfungsi untuk menorehkan cairan malam / lilin pada pola. Saat kain dimasukkan ke dalam larutan pewarna, bagian yang tertutup malam tidak terkena warna. Membatik dengan canting tulis sepeti ini disebut teknik membatik traisional
2. Teknik Celup Ikat, merupakan pembuatan motif pada kain dengan cara mengikat sebagian kain, kemudian kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Bagian kaian yang diikat atau ditutup lilin tidak akan terkena bahan pewarna. Setelah diangkat dari larutan pewarna kemudian ikatan dibuka maka bagian yang diikat tidak berwarna. Bagian tersebut tetap berwarna putih. Motif inilah yang disebut motif dalam bentuk negatif atau klise.
3. Teknik cap merupakan cara pembuatan motif batik menggunakan canting cap. Canting cap merupakan kepingan logam atau pelat berisi gambar yanng agak menonjol. Permukaan ccanting cacp yang menonjol dicelupkan ke dalam cairan malam (lilin batik). Selanjutnya canting cap dicapkan pada kain /mori. Canting cap akan meninggalkan motif. Motif inilah yanng disebutklise. Canting cap membuat proses pemalaman lebih cepat. Oleh karena itu, teknik printing dapat menghasilkan kain batik yang lebih benyak dalam waktu yang lebih singkat.
4. Teknik Colet, yaitu motif batik yang dihasilkan dengan teknik colet tidak berupa klise. Teknik colet disebut juga teknik lukis, yaitu cara mewarnai pola batik dengan mengoleskan cat atau pewarna pada kain jenis tertentu pada pola batik dengan alat khusus atau dengan kuas
5. Batik printing adalah tekstil yang bermotif batik bikinan pabrikan batik printing biasanya bercorak warna terang dan menyolok terkesan tidak mudah luntur, warnanya kontras, kombinasi warna yang dipakai sangat cocok. Teknik yang digunakan, teknik cetak layaknya industri tekstil. Tidak jarang menggunakan mesin cetak yang komputerise.
D. Macam-macam motif batik
Motif batik
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan (Sewan Susanto, 1980:212). Motif batik terdiri dari dua bagian, yaitu ornamen motif batik dan isen motif batik
Penggolongan motif batik
1. Motif Geometris
Motif Geometris adalah motif-motif batik yang ornament-ornamennya merupakan susunan geometris. Ciri ragam hias geometris ini adalah motif tersebut mudah dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut satu “raport”. Golongan geometris ini pada dasarnya dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:
a. Raportnya berbentuk seperti ilmu ukur biasa, seperti bentuk-bentuk segiempat, segiempat panjang atau lingkaran. Motif batik yang memiliki raport segi empat adalah golongan Banji, Ceplok, Ganggang, Kawung.
b. Raportnya tersusun dalam garis miring, sehingga raportnya berbentuk semacam belah ketupat. Contoh motif ini adalah golongan parang dan udan liris.
2. Motif Non Geometris
Motif non geometris adalah motif-motif batik yang tidak geometris. Termasuk dalam motif ini adalah motis Semen, Buketan, Terang Bulan. Motif-motif golongan non geometris tersusun dari ornament-ornamen tumbuhan, Meru, Pohon Hayat, Candi, Binatang, Burung, Garuda, Ular (Naga) dalam susunan tidak teratur menurut bidang geometris meskipun dalam bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motif tersebut.
Ornamen motif batik Ornamen motif batik terdiri atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang.
a. Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang mempunyai arti, sehingga susunan ornamen-ornamen itu dalam suatu motif membuat jiwa atau arti daripada motif itu sendiri.
Contoh:
Sawat atau lar, melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi
Meru melambangkan gunung atau tanah
Lidah api atau Modang, melambangkan nyala api
Ular/naga, melambangkan air
Burung, melambangkan angin
b. Ornamen tambahan tidak mempunyai arti dalam pembentukan motif dan berfungsi sebagai pengisi bidang. Bentuk lebih kecil dan sederhana. Dalam satu motif dapat diisi satu atau beberapa ornament pengisi.
Isen motif batik
Motif batik terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi. Isen motif batik adalah berupa titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk mengisi ornamen-ornamen dari motif atau pengisi bidang diantara ornamen-ornamen tersebut. Isen motif ada bermacam-macam dan sekarang masih berkembang, seperti: cecek, cecek pitu, sisik melik, cecek sawut, cecek sawu daun, sisik gringsing, galaran, rambutan, sirapan, cacah gori, dan sebagainya.
Makna batik
Untuk lebih memahami makna batik, ada dua daerah asal batik yang perlu dipelajari yaitu daerah Yogyakarta dan daerah Solo.
1. Batik daerah Solo
Daerah Solo merupakan kerajaan degnan segala tradisi dan adat istiadatnya. Ragam hias batik diciptakan dengan pesan dan harapan semoga membawa kebaikan bagi pemakai. Semua dilukiskan secara simbolis misalnya:
a. Ragam hias larangan dan dianggap sakaral, hanya dikenakan rja dan keluarganya yaitu parang rusak barong, sawat dan kawung
b. Ragam, hias slobog, berarti agak besar longgar dipakai untuk melayaat harapannya semoga arwah yang meninggal tidak mendapat halangan
c. Sidomukti, diapakai pengantin . sido berarti terus menerus dan mukti berarti hidup berkecukupan.
d. Truntum, dipakai orangtua pengantin. Truntum berarti menuntun makananya orang tua menuntun mempelai memasuki hidup baru
e. Satria manah, dipakai wali penganti pria ketika meninang degnan harapan semoga lamaran sang pria dapat diterim a baik oleh pihak wanita.
f. Semen rante, dipakai wali pengantin wanita ketia menerima lamaran. Rantai melambangkan ikatan yang kokoh. Harapnnya jika lamaran telah diterima, pihak wanita menginginkabn hibungan erat dan kokoh yang tidak dapat dilepas lagi
g. Parangkusumo, dipakai gadis pada upacara tukat cincin. Kusumo berarti bunga yang sedang mekar.
h. Pamiluto, dikenakan ibu si gadis apda upacara tukar cincin. Berasal dri kata pulut,melambangkan harapan ibu agar pasangan dara dan pria tidak terpisahkan lagi.
i. Bondet, dipakai pengantin wanita pada malam pertama. Berasal dari kata bundet berarti saling mengikat
j. Semen gendhong, dipakai pengantin setelah selesai upacara perkawinan dnegan harapan agar dapat segera menggendong bayi.
k. Ceplok kasatriyan, dipakai sebagai kain untuk upacara kirab pengantin. Batik ini digunakan oleh golongan menengah kebawah. Pemakainya gar terlihat gagah dan memiliki sifat ksatria.
2. Batik daerah Yogyakarta
Perpaduan tata ragam hias Yogyakarta cenderung pada perpaduan berbagai jenis ragam hias geometris dan berukuran besar. Misalnya:
a. Ragam hias Grompol, dikenakan pada upacara perkawinan. Grompol berarti berkumpul atau bersatu, merupakan pengarapan berkumpulnya segala sesuatu yang baik baik seperti rejeki, kebagahaigaan, keturunan, hidup rukun.
b. Tambal digunakan untuk selimut orang sakit. Tambal diambil dari pengertian menambal, yaitu menambal atau memperbaiki sesuatu yagn kurang , sehingga kemudian dianggap dapat menyehatkan yang sakit.
E. Alat dan Bahan membuat batik
Peralatan yg diperlukan:
1. Kain Mori (bias terbuat dari sutra, katun, atau campuran kain polyester)
2. Pensil
3. Canting (bias dikatakan ini adalah alat tulis batik)
4. Gawangan (tempat sampiran kain ketika membatik)
6. wajan kecil (untuk tempat lilin)
7. Kompor kecil (untuk memanaskan lilin)
Bahan :
1. Lilin
2. Larutan pewarna
F. Langkah-langkah membatik
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik tulis :
1. Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupu-kupu. Membuat design atau motif ini dapat menggunakan pensil.
2. Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam menggunakan canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
3. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
4. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu.
5. Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
6. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama.
7. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
8. Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
9. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
10. Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
11. Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.
12. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
G. Proses Pewarnaan Batik
Pewarnaan dg Napthol
Dengan resep sbb:
Larutan I (Napthol)
5 gr Napthol + 1 liter air panas+dingin
1,5 gr TRO (Turkis Red Oil)
3 gr Kustik (soda api)
Larutan II
10 gr Garam (Salt) + 1 liter air dingin
(Pembangkit warna)
Urutan Proses Pewarnaan
dengan Bahan Naphtol
Pencelupan Air Bersih
Diangin2kan/ditiriskan
Membuat Larutan Napthol
Pencelupan pada Napthol
Diangin2kan
Membuat larutan garam pembangkit warna
Pencelupan pada garam pembangkit warna
Dicelup air bersih
Diangin2kan
Pewarnaan dengan Indigosol
Dengan resep sbb:
Larutan I (Indigosol)
5 gr Indigosol + 1 liter air panas+dingin
7 gr Nitrit (Na No2)
Larutan II (HCl)
20 cc HCl + 2 liter air dingin
(Pembangkit warna)
Urutan Proses Pewarnaan dengan Bahan Indigosol
Pencelupan Air Bersih
Diangin2kan/ditiriskan
Membuat Larutan Indigosol
Pencelupan pada Indigosol
Dijemur diterik matahari
Membuat larutan HCL pembangkit warna
Pencelupan pada HCL pembangkit warna
Dicelup air bersih
Diangin2kan
Proses pewarnaan dengan bahan indigosol
Bahan untuk menimbulkan dan memperkuat warna alam (Fixsasi) :
jeruk sitrun, jeruk nipis, cuka, sendawa, borak, tawas, gula batu, gula jawa, gula aren, tunjung, prusi, tetes, air kapur, tape, pisang klutuk, daun jambu klutuk dll.
Adapun Langkah Pewarnaan sbb:
Larutan zat warna alam harus dipanaskan dahulu
Larutan ini harus cukup kepekatannya.
Kain yang sudah siap untuk dicelup dimasukkan satu persatu dalam larutan yang telah didinginkan.
Pencelupan dilakukan berulang-ulang, dan kain harus dalam keadaan kering, agar larutan lebih banyak menempel dan merata.
Pencelupan rata-rata dilakukan 15-23 kali. Sehabis kain dicelup malamnya harus disimpan bertumpuk, supaya tetap dalam keadaan basah.
Esok harinya baru diangin-anginkan di tempat yang teduh sampai kering, baru dicelup ulang.
Setelah proses pencelupan cukup, dilakukan fixsasi (disareni), agar warna menjadi kuat.
Menghilangkan malam/lilin
Didihkan air + abu soda
Masukkan kain & diaduk
Angkat + celupkan air dingin
keringkan
H. Manfaat yang diperoleh dari workshop membatik
Pelaksanaan workshop membatik sangat bermanfaat bagi kami selaku mahasiswa PGSD,
1. sebagai bekal untuk memahami tentang batik dan memberi pengetahuan.
2. untuk menambah pengetahuan tentang kebudayaan, terutama tentang sejarah batik tradisional Indonesia,
3. mengetahui jenis-jenis batik berdasarkan gologannya masing-masing
4. dan mengetahui cara pembuatan batik. Serta diharapkan agar warga indonesia mencintai dan melestarikan kebudayaan batik. Sehingga batik yang ada diIndonesia terus berkembang dan diakui keberadaannya di seluruh dunia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keragaman, seperti halnya keragaman dalam bidang tekstil, salah satunya adalah batik. Keragaman batik, baik dari jenis, langkah pembuatan maupun daerah asal batik, merupakan salah satu kekayaan Negara Indonesia, yang wajib untuk dilindungi agar tidak diakui oleh negara lain. Keragaman motif batik merupakan kekayaan dari daerah itu sendiri.
B. Saran
Disarankan untuk menyimpan batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik. Sebaiknya, almari tempat menyimpan batik diberi merica yang dibungkus dengan tisu untuk mengusir ngengat. Alternatif lain menggunakan akar wangi yang sebelumnya dicelup dulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru digunakan.
Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.
h. Pamiluto, dikenakan ibu si gadis apda upacara tukar cincin. Berasal dri kata pulut,melambangkan harapan ibu agar pasangan dara dan pria tidak terpisahkan lagi.
i. Bondet, dipakai pengantin wanita pada malam pertama. Berasal dari kata bundet berarti saling mengikat
j. Semen gendhong, dipakai pengantin setelah selesai upacara perkawinan dnegan harapan agar dapat segera menggendong bayi.
k. Ceplok kasatriyan, dipakai sebagai kain untuk upacara kirab pengantin. Batik ini digunakan oleh golongan menengah kebawah. Pemakainya gar terlihat gagah dan memiliki sifat ksatria.
2. Batik daerah Yogyakarta
Perpaduan tata ragam hias Yogyakarta cenderung pada perpaduan berbagai jenis ragam hias geometris dan berukuran besar. Misalnya:
a. Ragam hias Grompol, dikenakan pada upacara perkawinan. Grompol berarti berkumpul atau bersatu, merupakan pengarapan berkumpulnya segala sesuatu yang baik baik seperti rejeki, kebagahaigaan, keturunan, hidup rukun.
b. Tambal digunakan untuk selimut orang sakit. Tambal diambil dari pengertian menambal, yaitu menambal atau memperbaiki sesuatu yagn kurang , sehingga kemudian dianggap dapat menyehatkan yang sakit.
E. Alat dan Bahan membuat batik
Peralatan yg diperlukan:
1. Kain Mori (bias terbuat dari sutra, katun, atau campuran kain polyester)
2. Pensil
3. Canting (bias dikatakan ini adalah alat tulis batik)
4. Gawangan (tempat sampiran kain ketika membatik)
6. wajan kecil (untuk tempat lilin)
7. Kompor kecil (untuk memanaskan lilin)
Bahan :
1. Lilin
2. Larutan pewarna
F. Langkah-langkah membatik
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembuatan batik tulis :
1. Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupu-kupu. Membuat design atau motif ini dapat menggunakan pensil.
2. Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam menggunakan canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
3. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
4. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu.
5. Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
6. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama.
7. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
8. Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
9. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
10. Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
11. Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.
12. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
G. Proses Pewarnaan Batik
Pewarnaan dg Napthol
Dengan resep sbb:
Larutan I (Napthol)
5 gr Napthol + 1 liter air panas+dingin
1,5 gr TRO (Turkis Red Oil)
3 gr Kustik (soda api)
Larutan II
10 gr Garam (Salt) + 1 liter air dingin
(Pembangkit warna)
Urutan Proses Pewarnaan
dengan Bahan Naphtol
Pencelupan Air Bersih
Diangin2kan/ditiriskan
Membuat Larutan Napthol
Pencelupan pada Napthol
Diangin2kan
Membuat larutan garam pembangkit warna
Pencelupan pada garam pembangkit warna
Dicelup air bersih
Diangin2kan
Pewarnaan dengan Indigosol
Dengan resep sbb:
Larutan I (Indigosol)
5 gr Indigosol + 1 liter air panas+dingin
7 gr Nitrit (Na No2)
Larutan II (HCl)
20 cc HCl + 2 liter air dingin
(Pembangkit warna)
Urutan Proses Pewarnaan dengan Bahan Indigosol
Pencelupan Air Bersih
Diangin2kan/ditiriskan
Membuat Larutan Indigosol
Pencelupan pada Indigosol
Dijemur diterik matahari
Membuat larutan HCL pembangkit warna
Pencelupan pada HCL pembangkit warna
Dicelup air bersih
Diangin2kan
Proses pewarnaan dengan bahan indigosol
Bahan untuk menimbulkan dan memperkuat warna alam (Fixsasi) :
jeruk sitrun, jeruk nipis, cuka, sendawa, borak, tawas, gula batu, gula jawa, gula aren, tunjung, prusi, tetes, air kapur, tape, pisang klutuk, daun jambu klutuk dll.
Adapun Langkah Pewarnaan sbb:
Larutan zat warna alam harus dipanaskan dahulu
Larutan ini harus cukup kepekatannya.
Kain yang sudah siap untuk dicelup dimasukkan satu persatu dalam larutan yang telah didinginkan.
Pencelupan dilakukan berulang-ulang, dan kain harus dalam keadaan kering, agar larutan lebih banyak menempel dan merata.
Pencelupan rata-rata dilakukan 15-23 kali. Sehabis kain dicelup malamnya harus disimpan bertumpuk, supaya tetap dalam keadaan basah.
Esok harinya baru diangin-anginkan di tempat yang teduh sampai kering, baru dicelup ulang.
Setelah proses pencelupan cukup, dilakukan fixsasi (disareni), agar warna menjadi kuat.
Menghilangkan malam/lilin
Didihkan air + abu soda
Masukkan kain & diaduk
Angkat + celupkan air dingin
keringkan
H. Manfaat yang diperoleh dari workshop membatik
Pelaksanaan workshop membatik sangat bermanfaat bagi kami selaku mahasiswa PGSD,
1. sebagai bekal untuk memahami tentang batik dan memberi pengetahuan.
2. untuk menambah pengetahuan tentang kebudayaan, terutama tentang sejarah batik tradisional Indonesia,
3. mengetahui jenis-jenis batik berdasarkan gologannya masing-masing
4. dan mengetahui cara pembuatan batik. Serta diharapkan agar warga indonesia mencintai dan melestarikan kebudayaan batik. Sehingga batik yang ada diIndonesia terus berkembang dan diakui keberadaannya di seluruh dunia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keragaman, seperti halnya keragaman dalam bidang tekstil, salah satunya adalah batik. Keragaman batik, baik dari jenis, langkah pembuatan maupun daerah asal batik, merupakan salah satu kekayaan Negara Indonesia, yang wajib untuk dilindungi agar tidak diakui oleh negara lain. Keragaman motif batik merupakan kekayaan dari daerah itu sendiri.
B. Saran
Disarankan untuk menyimpan batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik. Sebaiknya, almari tempat menyimpan batik diberi merica yang dibungkus dengan tisu untuk mengusir ngengat. Alternatif lain menggunakan akar wangi yang sebelumnya dicelup dulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru digunakan.
Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.






nice share mbak
BalasHapusvisit my blog : http://muhammadilmiardi12005232.blogspot.com/
ini baru mantap :D
BalasHapussangat lengkap untuk tugas sekolah
terima kasih
iya,, terimakasih juga sist.. sudah mampir dan memberi komentar di blog saya.. :)
HapusMuhammad Ilmi Ardi: baik lah... :D
BalasHapusBoromania Selatan : iya , terimakasih juga.. sudah mampir dan meninggalkan komentar di blog saya .. :)
BalasHapusterus semangat... i love batik, jgn sampe punah warisan budaya kita. makasi mbak dah mau share
BalasHapusiya,, marii kita sebagai generasi muda,, tetap melestarikan kekayaan indonesia.. :)
Hapus