Setiap
pendidik dalam berbagai tingkat pendidikan perlu mengetahui dan memahami fase-fase
pertumbuhan dan perkembangan individu, begitu juga orang tua sebagai pendidik
kodrati bagi anak di rumah. Pengetahuan orang tua terhadap fase-fase,
pertumbuhan dan perkembangan anak sangat menentukan terjadinya komunikasi dan
interaksi yang baik antar anak dan orang tua, sehingga dengan demikian apa yang
diinginkan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak menuju kepribadian yang
mandiri dapat tercapai.
Sepanjang
sejarah manusia tidak ada orang tua yang secara sengaja dan sadar memberikan
pendidikan dan bimbingan kepada anaknya supaya anaknya tersebut mengalami
kegagalan dalam hidupnya. Bahkan pada prinsipnya orang tua bercita-cita dan
berusaha agar anaknya selalu sukses dalam kehidupannya kelak, tetapi namun
demikian tidak jarang orang tua (mungkin karena tingkat pendidikan atau kurangnya
kesadaran penuh dalam mendidik) mengalami kegagalan dalam rangka pembentukan
kepribadian anak. Pembentukan
kepribadian anak dalam artian proses pencapaian kedewasaaan baik jasmani maupun
rohani, sebaiknya di usahakan sejak dini secara konsisten dan berkesinambungan.
Hal itu di lakukan agar orang tua dapat mewarnai kepribadian anak menjadi
pribadi yang baik dan mandiri setelah dia menjadi dewasa.
Sarlito
Wirawan Sarwono mengemukakan bahwa: Menurut aliran emprisme yang dipelopori
oleh Jhon Locke (1632-1704) mengatakan bahwa: “Manusia itu sewaktu lahirnya
adalah putih bersih, bagaikan tabularasa, menjadi apakah anak itu kelak
sepenuhnya tergantung pada pengalaman-pengalaman yang akan
mengisi tabularasa tersebut. Kemudian aliran ini juga diikuti oleh Watson sebagai pelopornya mengatakan
karena jiwa manusia itu sewaktu lahirnya adalah bersih, maka yang akan
memberikan pengaruh terhadap pendidikan aank adalah lingkungan dan
pengalaman-pengalaman yang di laluinya. Oleh karena itu peran orang tua adalah
menyesuaikan diri anak dengan lingkungan dan pengalaman yang dikehendakinya.
Dalam hal
ini menurut penulis, kedua pendapat para pakar di atas masing-masing ada
benarnya, hal ini membuktikan bahwa faktor bakat tidak dapat dibiarkan begitu
saja, karena lingkungan juga dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan
kepribadian seseorang. Hanya saja yang kurang dapat diterima adalah pendapat
bahwa faktor pembawaan dan lingkungan mutlak mempengaruhi perkembangan hidup
seseorang. Alasannya adalah karena masih banyak faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi perkembangan hidup seseorang seperti faktor ekonomi, pendidikan,
psikologis dan pengalaman hidupnya. Dengan demikian yang dapat mempengaruhi
kepribadian seseorang terdiri dari multi aspek.
Jika
ditinjau lebih jauh setiap manusia yang dilahirkan selalu membawa potensi,
apabila potensi itu tidak dibina dan dikembangankan dengan baik maka manusia
tersebut dapat menyimpang dari fitrahnya. Pembinan fitrah harus disesuaikan
dengan situasi rumah tangga dan keadaan lingkungan yang baik. Keluarga sebagai
pendidik utama di rumah mesti memahami cara-cara mengembangkan setiap potensi
yang dimiliki oleh anak. Potensi yang dimiliki oleh setiap pribadi memang
sangat variatif, pariasi inilah yang menunjukkan kemampuan dasar anak
pada bidang-bidang tertentu.






bisa jadi buat referensi...:D
BalasHapus