Welcome text

Pages

Rabu, 25 Desember 2013

POLA ASUH ORANG TUA MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK


Setiap pendidik dalam berbagai tingkat pendidikan perlu mengetahui dan memahami fase-fase pertumbuhan dan perkembangan individu, begitu juga orang tua sebagai pendidik kodrati bagi anak di rumah. Pengetahuan orang tua terhadap fase-fase, pertumbuhan dan perkembangan anak sangat menentukan terjadinya komunikasi dan interaksi yang baik antar anak dan orang tua, sehingga dengan demikian apa yang diinginkan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak menuju kepribadian yang mandiri dapat tercapai.
Sepanjang sejarah manusia tidak ada orang tua yang secara sengaja dan sadar memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anaknya supaya anaknya tersebut mengalami kegagalan dalam hidupnya. Bahkan pada prinsipnya orang tua bercita-cita dan berusaha agar anaknya selalu sukses dalam kehidupannya kelak, tetapi namun demikian tidak jarang orang tua (mungkin karena tingkat pendidikan atau kurangnya kesadaran penuh dalam mendidik) mengalami kegagalan dalam rangka pembentukan kepribadian anak. Pembentukan kepribadian anak dalam artian proses pencapaian kedewasaaan baik jasmani maupun rohani, sebaiknya di usahakan sejak dini secara konsisten dan berkesinambungan. Hal itu di lakukan agar orang tua dapat mewarnai kepribadian anak menjadi pribadi yang baik dan mandiri setelah dia menjadi dewasa.
Sarlito Wirawan Sarwono mengemukakan bahwa: Menurut aliran emprisme yang dipelopori oleh Jhon Locke (1632-1704) mengatakan bahwa: “Manusia itu sewaktu lahirnya adalah putih bersih, bagaikan tabularasa, menjadi apakah anak itu kelak sepenuhnya tergantung pada pengalaman-pengalaman yang akan mengisi tabularasa tersebut. Kemudian aliran ini juga diikuti oleh Watson sebagai pelopornya mengatakan karena jiwa manusia itu sewaktu lahirnya adalah bersih, maka yang akan memberikan pengaruh terhadap pendidikan aank adalah lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang di laluinya. Oleh karena itu peran orang tua adalah menyesuaikan diri anak dengan lingkungan dan pengalaman yang dikehendakinya.
Dalam hal ini menurut penulis, kedua pendapat para pakar di atas masing-masing ada benarnya, hal ini membuktikan bahwa faktor bakat tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena lingkungan juga dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Hanya saja yang kurang dapat diterima adalah pendapat bahwa faktor pembawaan dan lingkungan mutlak mempengaruhi perkembangan hidup seseorang. Alasannya adalah karena masih banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan hidup seseorang seperti faktor ekonomi, pendidikan, psikologis dan pengalaman hidupnya. Dengan demikian yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang terdiri dari multi aspek.
Jika ditinjau lebih jauh setiap manusia yang dilahirkan selalu membawa potensi, apabila potensi itu tidak dibina dan dikembangankan dengan baik maka manusia tersebut dapat menyimpang dari fitrahnya. Pembinan fitrah harus disesuaikan dengan situasi rumah tangga dan keadaan lingkungan yang baik. Keluarga sebagai pendidik utama di rumah mesti memahami cara-cara mengembangkan setiap potensi yang dimiliki oleh anak. Potensi yang dimiliki oleh setiap pribadi memang sangat variatif, pariasi inilah yang menunjukkan kemampuan dasar anak pada bidang-bidang tertentu.

1 komentar: